Kamis, 15 April 2010

FILSAFAT ILMU

Manusia adalah makhluk berpikir. Kasadaran manusia akan realitas yang sering tampil samar dan misterius membuat manusia menjadi gelisah. Manusia dari waktu ke waktu mencoba untuk memahami, menjelaskan, dan menguraikan misteri yang terjadi. Oleh karena itu, setiap periode peradaban mengenai pemahaman terhadap realitas senantiasa aktual. Aktualitas tersebut merupakan konsekuensi dari kenyataan bahwa jawaban terhadap realitas, tidak dibuat sekali untuk selamanya, dan tidak bisa dibuat seseorang untuk semuanya.
Pemahaman manusia terhadap realitas senantiasa menuntut pemuasan intelektual untuk mencapai suatu kerangka berpikir yang konsisten dan utuh. Ilmu pengetahuan pada dasarnya lahir dan berkembang sebagai konsekuensi dari usaha-usaha manusia untuk memahami realitas kehidupan, alam semesta, melestarikan hasil yang sudah dicapai manusia sebelumnya. Usaha tersebut terakumulasi membentuk tubuh ilmu pengetahuan yang memiliki strukturnya sendiri. Struktur tubuh ilmu pengetahuan bukan barang jadi, karena struktur tersebut selalu berubah seiring dengan perubahan manusia baik dalam mengidentifikasi dirinya, memahami alam semesta, maupun dalam cara berpikir.
Ilmu bukan merupakan suatu bangun abadi, karena ilmu sebenarnya merupakan sesuatu yang tidak pernah selesai. Ilmu didasarkan pada kerangka objektif, rasional, sistematis, logis dan empiris. Dalam perkembangannya ilmu tidak mungkin lepas dari mekanisme keterbukaan terhadap koreksi dengan kata lain kebenaran ilmu bukan kebenaran mutlak. Kebenaran ilmu adalah kebenaran yang bersifat relatif. Itulah sebabnya, manusia dituntut untuk selalu mencari alternatif pengembangannya, baik yang menyangkut aspek metodologos, ontologism (tentang apa), epistemologis (bagaimana), mupun aksiologis (untuk apa). Setiap pengembangan ilmu yang dilahirkan paling tidak validitas dan kebenarannya dapat dipertangungjawabkan baik berdasarkan konteks justifikasi maupun konteks discovery.
Pengembangan ilmu pengetahuan adalah sejauh mana spiritualitas, moralitas, dan norma-norma etik maupun berperan sebagai dasar pengembangan ilmu itu sendiri. Apakah tata nilai ilmu pengetahuan mampu mengembangkan budaya dan pola pikir manusia sehingga tidak terjebak dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang kering yang hanya bersifat fisik semata. Disinilah pemahaman terhadap filsafat ilmu sangat diperlukan.. Pengembangan ilmu harus disinkronisasikan dengan akar budaya suatu bangsa. Nilai sebuah pengembangan ilmu dapat dillihat dari sejauh mana esensi ilmu tersebut mampu memberikan nilai lebih terhadap kemakmuran kehidupan manusia tanpa harus meninggalkan tata nilai, etik, moral dan filosofi dimana manusia tersebut berada.
Menurut Ghazali, ilmu dan kebenaran ibarat dua sisi sekeping mata uang. Manusia diciptakan Allah adalah untuk menjadi khalifah di bumi. Oleh karena itu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengoptimalisasi potensi dirinya dan kerangka pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Ilmu pengetahuan sebenarnya merupakan sebuah proses dan produk, ini menyebabkan konsep dan pandangan tentang ilmu pengetahuan akan selalu berubah sesuai dengan ruang dan waktu, sehingga tidak tertutup kemungkinan perkembangan ilmu yang akan lepas dari tata nilai budaya, etika, moral, maupun agama. Inilah yang harus dipikirkan manusia jangan sampai terjadi.
Perkembangan ilmu pengetahuan akhir-akhir ini, tampak sekali bahwa percepatan yang dikembangkan para ilmuwan lebih mengarah pada produk ilmiahnya daripada substansi atau hakikat keilmuan yang dapat dipakai sebagai sumber nilai yang mendukung pengembangan kebudayaan. Kenyataan ini dapat dipahami karena pengembangan aplikasi keilmuan berporos pada kebudayaan barat (lebih pada duniawidaripada rohani). Kalau kerangka pengembangan ilmu pengetahuan model barat begitu saja diadopsi di Indonesia, tentu tidak selamanya tepat.
Ilmu (science): merupakan pengetahuan yang mempunyai karakteristik tersendiri..
Pengetahuan (knowledge) mempunyai berbagai cabang pengetahuan. Ilmu merupakan satu diantara cabang pengetahuan. Karakteristik keilmuan itulah yang mencirikan hakikat keilmuan dan sekaligus yang membedakan ilmu dari berbagai cabang pengetahuan lainnya. Karakteristik keilmuan menjadikan pengetahuan menjadi bersifat ilmiah (pengetahuan ilmiah). Pengetahuan adalah segala sesuatu yang kita ketahui (kesenian, budaya, dll) sampai pengetahuan yang disebut ilmu.

Sumber Pengetahuan

1. Pikiran : karena adanya rasa ingin tahu
2. Perasaan : erat hubungannya dengan berpikir
3. Indera : melalui indera dapat pengetahuan
4. Intuisi : hal yang tidak perlu dipikir lagi. Jawabannya sudah ada dalam otak kita/ pengetahuan siap.
5. Wahyu : disampaikan oleh Tuhan secara langsung

• Ilmu berkaitan erat dengan dua sumber pengetahuan yakni pikiran dan indera
• Ilmu pada hakikatnya mencoba memadukan dua kemampuan manusia ini untuk mengungkapkan rahasia alam lewat kegiatan berpikir dan mengamati.

Penalaran
Penalaran adalah suatu kegiatan berpikir berdasarkan suatu aturan. Aturan dalam kegiatan berpikir tersebut disebut logika. Penalaran merupakan kegiatan berpikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menentukan kebenaran.
Berpikir logis merupakan suatu kegiatan berpikir secara teratur berdasarkan logika. Proses berpikir yang dituntun oleh suatu logika disebut kegiatan analisis.
Analisis merupakan proses yang harus ditempuh dalam berpikir agar kesimpulan yang ditarik sahih ditinjau dari suatu logika tertentu. Penalaran melalui dua tahap, yaitu berpikir (logika) dan analisis. Logika dalam arti sempit adalah cara berpikir menurut suatu aturan tertentu. Aturan berpikir dalam kegiatan ilmu dipatuhi dengan penuh kedisiplinan.
Tujuan utama penalaran adalah mengembangkan kemampuan untuk mencirikan dan membedakan buah pikiran/ide berdasarkan konsep pemikiran tertentu. Oleh karena itu, harus dikembangkan konsep kemampuan untuk menguasai konsep hakikat keilmuan dan mempergunakan konsep tersebut untuk membedakan ilmu terhadap cabang pengetahuan lain. Kita harus meletakkan ilmu dalam perspektif yang benar di tengah perspektif pengetahuan secara keseluruhan. Dengan demikian akan terbuka kemungkinan untuk menganalisis kaitan ilmu dengan pengetahuan lain seperti moral dan humaniora. Pendekatan ini akan menghasilkan ilmuwan yang mempunyai keahlian tetapi juga makhluk berbudaya yang berkepribadian luhur.

Menurut van Peursen, skema pemikiran manusia
1. Mitis
Dalam tahap mitis, apa yang disebut kebenaran atau kenyataan adalah sesuatu yang given, mistis, dan tidak perlu dipikirkan
2. Ontologis
Dalam hal ontologis, manusia atau masyarakat mandambakan kebenaran substansial
3. Fungsional
Kebenaran atau kenyataan diletakkan pada fungsi atau relasi kemamfaatannya. Manusia memamfaatkan segala yang ada di sekitar.

Tiga kategori pengetahuan
1. Pengetahuan tentang apa yang baik dan buruk
2. Pengetahuan tentang yang baik dan buruk (estetika)
3. Pengetahuan tentang yang baik dan salah (logika)
Tiga ciri pembeda pengetahuan
1. Tentang apa (entologi)
2. Bagaimana (epistemologi)
3. Untuk apa (aksiologi)

Kebenaran
Apa yang disebut benar bagi setiap orang adalah tidak sama. Proses berpikir manusia mempunyai tiga criteria kebenaran.
1. Koherensi (utuh)
Merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang suatu argumentasi
2. Korespondensi
Merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang kesesuaian antara materi yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan
3. Pragmatisme
Merupakan teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang berfungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalam lingkup ruang dan waktu tertentu.

0 komentar:

Posting Komentar